MENCERDASKAN EMOSI ANAK MELALUI FAMILY PROJECT
BELAJAR SAINS DENGAN BAHAN MAKANAN
BAGIAN 10 “MENGINTIP PEKERJAAN MIKROBA”
MENGINTIP PEKERJAAN MIKROBA.
Akhir pekan ini tak ada rencana yang berarti dalam keluarga
kami. Hanya aktivitas seperti biasa di rumah dan mengerjakan
pekerjaan-pekerjaan rumah yang menumpuk setelah satu pekan ditinggal aktivitas
di luar rumah. Aktivitas di rumah semacam ini merupakan hal biasa yang kami
lakukan dengan melibatkan kakak Aqila dalam mengerjakannya. Dari menyapu,
memasak, mencuci piring, mencuci baju hingga menjemur pakaian. Pagi ini terasa
sejuk namun penuh semangat, meskipun mb Ela belum sembuh benar dari sakitnya,
namun kakak Aqila tetap optimis bahwa mb Ela nya masih mau melakukan project
Bersama.
“ibu..kemarin aku lihat ibu beli pensil warna baru, itu untuk
ibu atau untuk aku?” kehangatan kalimat tanyanya meleburkan dinginnya pagi ini.
“ ibu beli untuk keperluan ibu mengajar di sekolah sayang, tapi
kalau kakak mau, kakak boleh pinjam atau ambil beberapa warna yang kakak
inginkan” jawabku memendam rasa ingin tahu, bagaimana tidak diantara
berpuluh-puluh pensil warnanya, dia masih menanyakan pensil warna yang kubeli
kemarin sore.
“ aku nggak mau pinjam dan nggak mau ambil bu.” Jelasnya
singkat.
“lalu kenapa kakak tanya kayak tadi itu?” tanyaku lagi.
“ karena pinsil warna punya mb ela dah habis, hilang semua. Dia pengen beli
krayon tapi belum dibelikan mamaknya. Jadi kalau ibu belikan yang baru untukku,
itu untuk mb Ela aja bu. Aku udah punya banyak.” Penjelasannya benar-benar
melelehkan hatiku.
Masyaalloh, sungguh aku tidak menyangka kakak Aqila memiliki kepedulian sampai
sejauh ini. Kepedulian ini tak akan terbayar dengan nilai rupiah. Apalah
artinya sebuah pensil warna baru.
“ oh gitu ya…oke.. nggak apa-apa kalau kakak mau kasih buat mb
Ela. Besok ibu beli lagi saja. Sekarang bawakan pensil warna itu, dan tanyakan
keadaan mb Ela.” Jawabku memberi keputusan.
“ibu taruh dimana pensil warnanya?”
“ di dalam lemari buku ibu, dorong pelan-pelan kacanya ya.”
“iya bu”
Dia pun bergegas menuju lemari kaca tempat persemayaman
buku-buku ibu yang kapasitasnya sudah tak muat lagi untuk ditambah koleksi yang
baru. Setelah ia dapatkan pensil warnanya, dia segera berlari menuju rumah mb
Ela. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam sana, tak lama kemudian mereka
berdua keluar rumah dengan wajah ceria dan sambil tertawa Bersama.
“ eh mb Ela..udah baikan belum?” tanyaku dari ujuung pintu.
“udah..tapi aku belum pengen makan apa-apa.” Jawabnya.
“ gimana pensil warnanya suka apa enggak”
“mmmm…aku maunya krayon tante, kata mamak kalau sudah sembuh mau dibelikan
krayon.”
“ ya nggak usah beli aja nggak apa-apa, itu untuk kamu.”
“enggak ah…kalau untuk main bisa pake punya Aqila, krayon kan untuk dibawa ke
sekolah.”
“oh..gitu..beneran nggak mau yang baru?” tanyaku lagi memastikan.
“iya tante nggak apa-apa, aku udah boleh pinjam punya Aqila aja udah seneng
kok”
Hah?! Deg! Dadaku tiba-tiba berdetak lebih keras, lidahku
tercekat untuk mengeluarkan kata-kata. Fikiranku melayang jauuuh…menuju pada
beberpa kejadian yang masih tersimpan rapi dalam ingatan. Sering sekali mereka
berdua bertengkar dan berebut sesuatu, saling ejek, saling berteriak, saling
mempertahankan miliknya. Tak jarang mereka kembali kerumah masing-masing dengan
membanting pintu. Selama ini apa masalahnya, aku sendiri kurang menggali
informasi. Bagiku hal biasalah jika anak-anak bertengkar, toh nanti juga baikan
lagi. rupanya baru aku ingat betapa Aqila teramat mempertahankan semua mainan
miliknya, enggan berbagi , meminjami atau sekedar memainkannya bersama pun
seringkali Aqila tak mau. Hingga sikap-sikap seperti inii membuat luka pada
hati mereka masing-masing.
Tapi hari ini aku menyaksikan sendiri mereka dua saudara yang
saling menyayangi. Kakak Aqila mengkhawatirkan mb ela yang sedang sakit dan
memliki perasaan menyesal karena tidak mau meminjami barang-barang miliknya,
dengan memberi hadiah ini Aqila berharap bisa menghibur hati mb ela yang sedang
murung karena sakit. Ternyata mb Ela tidak meminta lebih pada Aqila, dia hanya
ingin main bersama dan boleh meminjam mainan Aqila tanpa harus marah-marahan.
Maka, ketika aku dan Aqila melibatkan mb ela dalam family project beberapa hari
ini, dia sangat senang dan bersemangat sekali. Luar biasa, aku sebagi ibu
merasa sangat terharu dengan sikap social mereka.
Tak lama kemudian lamunanku menjadi buyar saat tiba-tiba tukang
sayur keliling menyapa kami dengan suara klakson motornya. Ku lihat dua anak-anak
ini langsung berlari menuju tukang sayur langganan. Mereka langsung
memilih-milih jajanan pasar tradisional yang sudah sangat sulit sekali kami
temui saat ini. Akupun mengambil dua bungkus tape ketan dan singkong yang entah
kapan terahir aku makan olahan seperti ini. Rupanya, kedua anak-anak ini juga
penasaran sama rasa tape. Mereka bertanya makanan ini apa Namanya,dibuatnya
dari apa dan kenapa bisa lembek dan rasanya bisa semriwing asam yang menggigit.
Yah..rupanya mereka suka sekali, ku berikan sebungkus untuk
mereka berdua dan mereka menikmati bersama sambil saling berbagi. Sedikit
kujelaskan proses pambuatan tape dengan ragi yang mengandung mikroba. Mereka
Cuma mengangguk-angguk saja, entah ngerti entah enggak ya…hehehe..
Tiba-tiba saja aku teringat sebuah percobaan, yaitu menggelembungkan balon
dengan menggunakan ragi. Langsung saja aku ajak mereka berduua membuat project
ini, dan mereka berteriak girang tanda semangat.
Ragi kering telihat seperti butiran- butiran yang mati, tetapi
sebenarnya terdiri dari jutaan mikroba yang tidak aktif karena didinginkan dan
dikeringkan. Dngan menambhakan gula dan air hangat, mikroba menjadi hidup
kembali.
MENGINTIP PEKERJAAN MIKROBA
Apa saja yang harus disiapkan?
Bahan-bahan :
1. Ragi
kering 30 gr
2. Gula
3. Botol
gelas
4. Balon
5. Mangkuk
6. Air
hangat
7. Cangkir
Jalannya percobaan :
1. Buatlah
campuran dua sendoh teh ragi dan dua sendok makan air hangat di dalam cangkir
lalu tambahkan satu sendok teh gula.
2. Masukkan
campuran ragi ke dalam botol dan tutup mulut botol dengan mulut balon. Tariklah
sampai balon menutup leher botol. Letakkan botol ke dalam mangkuk brisi air
hangat selama 15 menit.
Apa yang terjadi ?
Balon akan mengembang seperti ditiup
MENGINTIP PEKERJAAN MIKROBA
Mengapa demikian?
Karena reaksi antara ragi, gula dan air hangat akan menghasilkan
karbon diokasida. Gas karbondioksida ini akan menghasilkan gelembung-gelembung
udara sehingga udara akan meniup balon.
Makna hari ini :
Kegiatan family project yang melibatkan anak lain selain dapat
melatih kerjasama dan kekompakan juga dapat menjadi kegiatan yang mengasah rasa
empaty kepada oranglain. sikap saling peduli dan saling menyayangi.
Orangtua dapat menggali informasi dengan meminta anak mencceritakan teman
bermainya melalui kegiatan yang dilakukan Bersama.
Orangtua dapat mengevaluasi seperti apa cara anak berteman dan bagaimana
temannya.
MENGINTIP PEKERJAAN MIKROBA