MENGEMBANGKAN
POTENSI KECERDASAN ANAK MELALUI FAMILY PROJECT
BELAJAR SAINS BERSAMA ALAM
“MENUNJUKKAN BAHWA
PENGKARATAN MERUPAKAN CAMPURAN OKSIGEN DAN BAHAN LAIN (OKSIDASI)”
Dari pengalaman yang lalu saat Aqila berada di usia antara 0-1
tahun, ia mencoba meraih semua benda yang ada di sekitarnya. Tampak darinya
upaya untuk mengetahui nama benda dan membolak-balikan benda itu tanda ia
sedang mengamati dan menguji benda yang ada di tangannya. Tak jarang ia akan
mengujinya dengan memasukkan benda itu ke dalam mulutnya. Saat usianya sudah 2
tahun, ia mulai mengklasifikasikan berbagai benda. Dari warna dan bentuknya. Di
usia inipun ia mulai dapat berbicara, lalu mulai membandingkan berbagai ukuran
benda. Selanjutnya ia memiliki daya nalar dan imajinasi , bahkan telah mampu
menceritakan tentang mimpinya ketika tidur. artinya dia telah menyadari adanya
mimpi dalam tidur.
BELAJAR SAINS BERSAMA ALAM
Di usia tiga tahunnya, Aqila mulai mengamati semua gejala alam
yang dilihatnya, seperti angin, awan, mendung dan hujan serta pelangi. Semakin
hari keingintahuannya semakin besar dan pertanyaan yang diajukannya meluncur
tiada henti. Maka dari sinilah aku mulai menyiapkan diri untuk menyediakan
kesempatan baginya untuk belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Karena
dengan seperti ini, aku berharap Aqila akan mampu menunjukkan dan “berbagi”
tentang kelebihan yang dimilikinya. Karena dengan membangun kelebihannya inilah
akan memotivasi Aqila untuk menjadi seorang “spesialis” di usia yang masih
dini. Selain itu ia akan mendapatkan pengalaman belajar yang positif dan
berbeda dari anak-anak lain yang berada di sekolah usia dini. Dengan pengalaman
positif ini, ia akan mampu mencari solusi dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya.
Seperti halnya ada orangtua dari salah satu temannya mengatakan bahwa kalau
makan nggak boleh sambil tiduran nanti berubah jadi ular. Sontak saja Aqila
menolaknya, karena Aqila tahu bahwa kita adalah manusia bukan ular. Jadi tidak
bisa manusia berubah jadi ular. Karena manusia itu beranak dan bukan bertelur,
padahal ular itu bertelur. Nah, bukankah hal ini sangat menyesatkan apa yang
disampaikan orangtua tadi? Dan jika anak tidak memiliki pemahaman yang benar,
maka dia akan percaya begitu saja apa yang dikatakan orangtua tadi. Padahal
urusan makan kaitannya dengan adab makan, maka seharusnya yang disampaikan
adalah adabnya yang benar bukan ditakuti dengan hal aneh yang tidak masuk akal.
Inilah tantangan bagi orangtua untuk tetap memberi kesempatan anak
belajar dengan fitrahnya dan orangtua menjadi fasilitator yang baik bagi mereka
agar anak-anak kita memiliki pemahaman yang benar. Masih tentang besi berkarat
kemarin itu, Aqila masih saja bertanya bagaimana udara/angin dapat mempengaruhi
perubahan warna pada benda-benda yang terbuat dari besi. Meskipun sebenarnya
aku juga hampir kehabisan akal untuk menyampaikan tentang proses oksidasi ini,
akhirnya kusampaiakn juga kata “oksidasi” namun kuperlihatkan padanya beberapa
fenomena akibat oksidasi. aku bahkan ragu bagaiamana ia nanti mengartikan kata
oksidasi, karena dengan istilah gas oksigen itu sendiri dia belum begitu akrab.
Akhirnya untuk membedakan oksigen dan karbondioksida aku mengajaknya bermain
menghirup dan menghembuskan udara melalui proses pernafasan manusia. Yah… ini
adalah sebuah upaya untuk memberikannya jawaban yang sebenarnya bukan jawaban
asal yang mengandung mitos karena pada akhirnya ketika ia besar nanti, ia akan
mengkonstruk pengetahuan dan pengalaman belajarnya menjadi sebuah pemahaman
yang kompleks. Akhirnya kamipun menyepakati untuk bereksperimen dengan sabut
aluminium lagi.
Bahan-bahan :
1. Pensil
2. Botol
berukuran 1 liter
3. Gelas
plastic berukuran 300 ml
4. Sabut
pencuci dari aluminium
5. Air
cuka
6. 1
buah balon
Langkah-langkah :
1. Letakkan
sabaut pencuci ke dalam gelas
Tuangkan air cuka diatas sabut
2. Tarik
sabut menjadi untaian
3. menggunakan
pensil untuk mendorong sabut masuk ke dalam botol
4. Lekatkan
balon di mulut botol
5. Amati
balon selama 4 jam
Hasil :
Balon pelan-pelan akan terbalik ketika masuk ke dalam botol dan
balon akan menggelembung di dalam botol.
Mengapa demikian?
Karena pada awalnya botol terisi udara yang terdiri atas oksigen
dan gas-gas lain. tekanan molekul gas di udara baik di dalam maupun di luar
botol pada balon sama. Tetapi ketika sabut pencuci berkarat, oksigen dalam
botol bergabung dengan besi sabut pencuci. Oleh karena itu, reaksi kimia yang
disebut oksidasi terjadi. Sebagai hasil dari reaksi ini hanya sedikit molekul
gas di udara di dalam botol yang mendorong balon. Tekanan yang lebih besar dari
molekul-molekul gas di luar balon akan mendorong balon masuk ke dalam botol.
Pengalaman hari ini membuat Aqila memiliki kesimpulan bahwa
karat tetap tidak bisa dihindari dari semua benda yang terbuat dari logam.
Karena udara dan air ada dimana-mana. kami harus mengecat ulang tralis jendela
supaya tidak tampak karatnya, Karena karat itu berbahaya. Meskipun percobaan
yang dilakukan hasiilnya kurang sempurna karena balon tak dapat menggelembung
di dalam botol, melainkan hanya tertarik masuuk kedalam botol. Dan yang
menyebabkan hal ini terjadi adalah karena leher botol terlalu kecil dan Panjang
sehingga tak ada ruang bagi balon untuk menggelembung.
Baca Juga