BELAJAR BERSAMA ALAM
“MENCONTOH PERESAPAN
AIR DALAM TANAH”
SERI MENGEMBANGKAN
POTENSI KECERDASAN ANAK MELALUI FAMILY PROJECT
Sebagian besar anak-anak tidak dapat memperoleh pengalaman
belajar secara efektif manakala mereka dipaksa duduk manis di kursi. Mereka
perlu terlibat secara fisik dalam proses mendapatkan pengalaman belajar. Justru
terkadang pengalaman belajar ini sering mereka dapatkan ketika mereka sedang
bermain. Dengan bermain, anak-anak mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk
mengembangkan kreativitasnya . anak-anak dapat bereksperimen dengan ide-ide
barunya meskipun aktivitas bermainnya menggunakan alat ataupun tidak. Percaya
atau tidak pada saat anak sedang bermain dan mampu menciptakan sesuatu yang
unik dia akan melakukannya kembali di kesempatan yang lain. sehingga waktu
bermain adalah saat -saat yang penting dan istimewa bagi anak untuk dapat
berkreasi.
Aktivitas bermain juga dapat menjadi sarana dalam pembentukan
konsep diri anak. Anak akan belajar mengenali dirinya dan interaksinya dengan
oranglain. anak menjadi memahami apa saja kemampuan yang dimilikinya. Dalam
aktivitas bermain terkadang anak akan dihadapkan pada berbagai macam peran yang
dapat dipilihnya sebagai peran yang paling tepat dan paling cocok untuk
dirinya.
Ketika anak bermain menggunakan alat, anak akan mendapatkan
banyak hal baru yang berhubungan dengan fisik benda baik bentuk, warna, ukuran,
dan tekstur benda. Bahkan anak akan mendapatkan pengalaman baru tentang sebuah
fenomena dan kejadian yang dialaminya pada saat bermain. Tak jarang anak-anak
ini juga mendapatkan masalah manakala kenyataan tak seperti yang diharapkan dan
hal ini melibatkan emosinya. Sehingga anak akan berusaha mengatasi masalahnya.
Seperti yang dialami Aqila hari ini, ia bermain di tanah membawa beberapa
peralatan masak-masakannya. Rencana awal ia ingin membuat kue kering dengan
mencetak tanah yang basah menjadi bentuk-bentuk geometri yang kemudian akan
dikeringkannya. Kulihat ia membawa cangkir berisi air lalu disiramkannya air
itu ke tanah. Ia berharap tanahnya kan menjadi basah lalu dapat dikeruk dan
dicetak. Namun ia menemui masalah, air yang disiramkannya ini menghilang dan tidak
dapat menggemburkan tanah yang dimaksud. Ia mengulanginya hingga beberapa kali,
namun hasilnya sama. Lama-lama kulihat dia merasa kesal lalu marah-marah
sendiri. Setelah itu ia membanting sekop dan cangkirnya lalu ditinggalkannya
begitu saja. Masih kuperhatikan dia dari kejauhan, kulihat dia duduk cemberut
di tepi pintu rumah. Tak tega rasanya, kudekati dia dan kuusap bahunya lalu
percakapanpun terjadi antara kami.
“ kakak kok kelihatannya sedih, capek ya mainnya?”
“ enggak” jawabnya ketus.
“ mmm…jadi nggak mainnya tadi?”
“ enggak, aku enggak bisa”
“ lho, anak ibu kan hebat apa si yang kakak nggak bisa? Pasti
sebenarnya kakak bisa tapi belum dicoba.”
“ itu lho..airnya hilang terus, kan tanahnya biar basah jadi
bisa tak ambil untuk buat kue.tapi airnya habis di tanah.”
“yang mana si kak, coba tunjukkan ke ibu”
Ia menuntunku ke tempat ia menyiramkan air ke tanah.
“ kak, airnya nggak hilang, tapi meresap ke dalam tanah. Airnya
mengalir ke bawah sana. Lagian ini tanhnya terlalu keras kak untuk dikeruk dan
dijadikan kue mainan.”
“ ya tapi aku mau main, tanah yang mana yang bisa dipake? Nanti
airnya hilang lagi, kenapa si bu airnya bisa masuk ke bawah sana? Apa semua
tanah kalau disiram air kayak gitu?”
“ Namanya meresap nak…karena sifat air kan memang begitu,
mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Air juga meresap melalui
celah-celah kecil seperti yang ada di tanah ini. Kalau tanahnya jadi kering
legi sebagian airnya menguap karena kena sinar matahari”
“ jadi aku nggak bisa bikin kue nya bu?”
“bisa kok, tapi Aqila lebih baik keruk tanah yang masih kering
saja dulu dikumpulin dan masukkan dalam wadah, baru disiram air.”
“ ibu mau temenin aku main enggak?”
“ mau…tapi ibu mau tunjukkan ke Aqila dulu tentang cara air
dapat meresap ke dalam tanah. Setelah itu bahan-bahannya bisa Aqila pake buat
main.”
Baca Juga ya Bunda
“ ye….makasih ibu udah baik sama aku.”
“ sama-sama sayang”
Akhirnya permainan membuat kue dipending dulu oleh Aqila, dia
juga begitu penasaran dengan resapan air dalam tanah. Kuminta dia mengumpulkan
pasir, kerikil, batu-batu kecil dan mengambil air. Kulihat ia Semangat sekali
meskii pagi hari sudah terasa terik. Kami membutuhkan beberapaa alat dan bahan
seperti berikut ini,
Bahan-bahan :
1. Sendok
besar
2. Mangkuk
ukuran 2 liter
3. Toples
plastic transparan
4. Pasir
5. Kerikil
6. Batu
kecil
7. Air
8. Cangkir
kecil untuk menakar
Langkah-langkah :
1. Gunakan
sendok besar untuk mencampur pasir,kerikil, dan batu kecil di dalam mangkuk
besar.
2. Sendoklah
campuran pasir, kerikil dan batu ke dalam toples transparan
3. Secara
perlahan tuangkan air ke dalam toples
4. Perhatikan
gerakan air ketika melewati campuran
5. Letakkan
toples di daerah yang hangat dengan sinar matahari langsung selama dua atau
tiga hari
6. Perhatikan
campuran itu tentang kebasahannya.
Hasil :
Air pertama kali membasahi pasir dan mengisi celah-celah
diantara pasir,kerikil dan batu di bagian atas toples. Ketika air bergerak ke
dasar toples, air akan keluar dari rongga-rongga ketiga bahan itu di lapisan
bagian atas dan mengisi celah-celah yang ada di bawahnya. Lapisan atas menjadi
kering dan di lapisan bawah menjadi basah.
Mengapa demikian?
Karena air akan melewati bahan-bahan yang dapat ditembus air
sepperti pasir dlam percobaan ini. Proses air yang melewati atau meresap ke
dalam tanah atau segala bentuk cairan yang melewati bahan yang bisa ditembus
disebut peresapan.
Demikian percobaan hari ini, dari rasa kesal Aqila saat sedang
bermain menjadi sebuah pengalaman dan pengetahuan baru buat Aqila. Sehingga dia
harus menggunakan metode lain untuk mencetak kue-kuenya. Namun karena melihat
tekstur campuran pasir, kerikil dan batu itu terlihat menarik baginya, ia
merubah acara bermainnya. Yang tadinya mau buat kue jadi mau buat bubur dan es
krim. Hehe..ada-ada saja Aqila ini sangat menggemaskan.