MENJAJAKI
GAYA BELAJAR ANAK DENGAN BERAGAM KEGIATAN
“MENGGAMBAR DAN MEWARNAI PELANGI”
Sebagian
besar anak akan dapat belajar dengan
baik ketika mereka diberi kesempatan dan kebebasan memilih cara yang sesuai
dengan gayanya sendiri. Anak akan mampu menyerap informasi lebih cepat dan
mudah, mereka juga akan mengidentifikasi cara yang paling disukainya untuk
menerima informasi. Namun untuk melakukan hal ini kita perlu praktik,
ketetapan, dan waktu juga stimulus kepada anak yang masih balita. Tidak cukup
sekali dua kali kita melakukan pengamatan kepada mereka. Harus berulangkali
dengan menjajakinya melalui berbagai aktivitas yang mereka lakukan.
disini
Pernah suatu
ketika saya ditanya si kecil mengenai paduan warna yang indah di langit seusai
hujan reda. Ia bertanya bagaimana hal itu dapat terjadi, mengapa pelangi hanya
sebentar saja dapat dinikmati dll. Rasa ingin tahunya ini, saya jawab dengan
sebuah penjelasan ilmiah dengan memilih kata-kata yang dapat dipahami olehnya,
esok harinya kuajak ia membuat pelangi dengan beragam cara. Lalu
menggambarkannya di sebuah kertas putih. Sengaja aku mengajaknya menggambar,
karena dengan aktivitas ini saya akan menjajaki gaya belajarnya. sejauh mana ia
dapat memaksimalkan indera penglihatannya untuk menangkap dan mengolah
informasi. Melalui aktivitas visual ini, saya
akan mengamati seberapa jauh Aqila dapat menitikberatkan ketajaman
penglihatannya. Apakah dengan melihat langsung pelangi yang dibuatnya melalui
beberapa percobaan dapat membuatnya percaya bahwa terbentuknya pelangi adalah
dari sebuah proses dibiaskannya air oleh cahaya? Jika beberapa bukti nyata ditampakkan
dan ditunjukkan kemudian ia mempercayainya, maka kecerdasan visual dan gaya
belajar visual menjadi tumpuannya untuk mengolah informasi. Meskipun tidak
menyeluruh, artinya segala aktivitas visual menjadi salah satu kebutuhan yang
harus dipenuhi agar anak dapat mengolah informasi dengan beragam cara.
Ada beberapa
karakteristik yang khas bagai anak yang menyukai gaya belajar visual ini. Ia
memiliki kebutuhan/keharusan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara
visual untuk mengetahui dan memahaminya, ia juga memiliki kepekaan yang kuat
terhadap warna, memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik,
memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, terlalu reaktif terhadap
suara, sulit memahami penjelasan secara lisan, seringkali salah menginterpretasikan
kata dan ucapan.
setelah Aqila
mengetahui susunan warna-warna pelangi dengan melihat langsung, baik pelangi
yang sebenarnya, pelangi buatan melalui percobaan dan pelangi yang ada di
gambar-gambar, ia kuminta untuk menggambarkan pelanginya sendiri dengan pensil
warna yang ia miliki. Namun apa yang terjadi, ia tidak menghafal urutan-urutan
warna pelangi dengan baik. Yang ia tahu hanya merah, kuning dan hijau seperti
dalam lagu yang dihafalnya.
“ kak, ayo kita
gambar pelangi disini. Kakak buat pelanginya dengan bentuk melengkung dulu ya?
Setelah itu dikasih warna.”
“ bu, tapi
warna pelangi kan banyak, aku harus buat berapa bentuk lengkungannya?”
“ kakak kan
sudah lihat pelangi kan? Kakak juga sudah lihat di buku majalah anak, kakak
bisa mengingatnya?”
“ enggak bu,
yang aku tahu ya merah, kuning, hijau..di langit yang biru..” jawabnya sambil
bersenandung.
“ ya sudah, ibu
ambilkan majalahnya dulu ya, nanti kakak lihat lagi dan kakak bisa
menggambarkan pelangi sama seperti di majalah.”
“ iya bu…”
Baca Juga ya
Sengaja saya
ambilkan contohnya langsung supaya ia dapat mencontoh urutan warna pelangi yang
sebenarya dan kemudian harapan saya dia dapat menggambarnya dengan urutan warna
yang benar. Namun, ternyata tidak demikian. Aqila justru menerka-nerka warna
dan menghitungnya tak juga ia segera menggambar. Mengapa justru ada masalah
disini, akhirnya saya mencoba dengan memberinya penjelasan tentang urutan warna
pelangi dengan tanpa menggunakan majalah itu lagi. ku urutkan warna dari
me-ji-ku-hi-bi-ni-u melalui lisanku dan kuminta ia mengambil setiap warna yang
kusebutkan lalu menorehkannya dalam kertas putih yang tellah disediakan untuk
menggambar. Ia pun dengan mudah mendapatkan setiap warna yang kusebutkan dan
membuat bentuk lengkungan pelangi dengan sangat hati-hati lalu mewarnainya.
Setelah semua susuan warna pelangi selesai ia gambar, kuminta Aqila untuk
membuat gambar pelangi sekali lagi namun tanpa arahan dariku. Dan hasilnya…ia
dapat menyelesaikan gambarnya tanpa melihat contoh-contoh gambar pelangi bahkan
tanpa melihat gambar pelangi yang ia gambar sendiri sebelumnya. Dia mengingat
urutan warna pelangi dengan kata-kata me-ji-ku-hi-bi-ni-u bukan dengan gambar
dan warnanya langsung.
Dari kegiatan
ini, Aqila lebih menempatkan pendengaran sebagai instrumen utama dalam menyerap
informasi atau pengetahuan daripada penglihatannya. Dengan mendengar penjelasan
dan arahan secara verbal, ia dapat mengingat dan memahami informasi.
Baca Juga ya
#harike9
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP