PIKIRAN BUKAN SEBUAH WADAH
UNTUK DIISI TAPI API UNTUK DINYALAKAN
Setiap proses
berpikir tak akan terlepas dari perkembangan organ bernama otak. Pada belahan
otak kanan dan otak kiri memiliki
perbedaan fungsi yang sangat ditentukan oleh aktivitas mental yang berproses
pada masing-masing belahan otak. Apa saja perbedaan fungsi kedua belahan otak
ini? Belahan otak kiri bekerja secara linier dan sangat rasional. Bergerak
dengan menghubungkan satu ide dengan ide yang lainnya. Bagian ini adalah pusat
control untuk fungsi intelektual seperti ingatan, Bahasa, logika, perhitungan,
klasifikasi, menulis, dan analisis. Sedangkan belahan otak kanan merupakan
pusat control untuk fungsi mental. Seperti tingkah laku dan emosi, persepsi,
koordinasi tubuh, music, irama dan penyimpanan pikiran.
Norman Cousins mengatakan, bahkan jagad raya,
dengan jutaan galaksinya pun tidak sanggup menandingi kompleksitas otak manusia
yang menakjubkan. Otak manusia adalah cermin ketakterhinggaan. Tidak ada batas,
ruang lingkup atau kapasitas bagi otak untuk tumbuh secara kreatif. Sehingga
manusia perlu memaksimalkan fungsi otaknya sebbaik mungkin. Memahami kebutuhan
otak dengan memberi rangsangan dan stimulasi yang baik. Apalagi optimalisasi
otak pada anak usia dini. Mereka membutuhkan rasa aman, kasih sayang dan
perlindungan dalam mengoptimalkan fungsi otaknya melalui stimulasi positif.
Mereka membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya terutama keluarga yang
akan memudahkannya menangkap informasi.
Stimulasi positif untuk mengoptimalkan fungsi
otak juga dapat dilakukan dengan mengasah kreativitasnya melalui bermain. Anak
harus terlibat secara intensif dalam berdialog saat bermain dengan teman atau
orangtuanya. Berikan rangsangan melalui hal-hal yang menjadi minatnya sehingga
anak terdorong untuk berpikir. Dengan seperti itu akan melatih keterampilan berpikir
kreatifnya. Ia akan menjajaki dirinya dan lingkungannya dengan berbagai cara
menggunakan kemampuan yang baru berkembang pada dirinya.
Bermain pun merupakan sarana untuk anak belajar
mengenali diri dan lingkungannya. Jauh dari apa yang orang pahami selama ini
bahwa, belajar adalah untuk menemukan jawaban-jawaban, belajar yang diukur
denan indeks prestasi dan nilai-nilai ujian. Bahkan belajar sering dikaitkan
dengan aktivitas menuliskan hal-hal yang teah diketahui oranglain diatas kertas
atau papan tulis. Padahal beajar adalah sebuah petualangan seumur hidup. Sebuah
proses Panjang dan perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan
pemahaman personal kita sendiri. Dan kita harus memahami bbahwa petualangan itu
akan melibatkan segenap kemampuan secara terus menerus untuk sadar akan proses
belajar dan berpikir.
Kita membutuhkan keleluasaan untuk menghadapi
petualangan ini. Keleluasaan yang
bagaimana? Yaitu keleluasaan untuk berpikir dan menemukan makna serta persepsi
tentang sesuatu. Leluasa dalam memilih dan mengambil keputusan serta kesiapan
mental dalam menghadapi konsekuensinya. Bukan dengan sebuah pikiran yang
dijejali dan didoktrin sedemikian rupa sehingga pikiran itu terkungkung dan
tidak berkembang. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang sepertinya tak
jauh dari tempat kita. ada pengalaman menarik dari seorang siswa taman
kanak-kanak yang sedang bermain dengan anak saya, Aqila. Mereka bermain warna
menggunakan crayon. Masing-masing memiliki gambar yang sama untuk diwarnai dari
kertas yang berbeda.
Selanjutnya terjadi perdebatan hebat hingga
melibatkan emosi masing-masing hanya karena perbedaan pendapat tentang warna
bunga. Ini adalah hal sangat menarik untuk saya amati. Bagi siswa TK ini, bunga
itu merah dan daun itu hijau. Berbeda dengan Aqila yang lebih sering mengamati
segala makhluk yang ada di lingkungannya bersamaku. Ia berpendapat bahwa
terlalu banyak warna di dalam kotak crayon ini yang bisa dia gunakan untuk
memberi warna bunga, dan ia memiliki banyak pengalaman dengan melihat bunga
yang beraneka macam warnanya. Bahkan dallam kelopak bunga yang sama, ia melihat
ada warna yang berbeda disana. Daun pun tak selalu hijau yang ia jumpai. Dia
sering melihat daun berwarna kuning atau merah.
Karena perdebatan mereka mengarah pada sebuah pertengkaran,
saya merasa tersentuh untuk melerai mereka berdua dan kutanyakan permasalahan
mereka. Masing-mmasing memberikan pendapat dan argumennya. Oke… saya memahami
pola pikir Aqila. Namun bagaimana dengan temannya? Ingin sekali saya menggali
informasi darinya mengapa bunga harus merah dan daun harus hijau. Dan apa yang
keluar dari bibirnya benar-benar tak kuduga, ia mengatakan bahwa begitulah
gurunya di TK mengajarinya mewarnai. Hal itupun didukung oleh ibunya di rumah,
bahwa bunga itu merah dan daun itu hijau titik! Saya setengah kaget namun saya
harus menyadari bahwa teman Aqila memang tidak salah mengikuti ajaran guru dan
ibunya. Namun dalam hati saya menyayangkan hal ini, anak ini terjejali dengan
paradigma orang dewasa yang ada disekitarnya dan enggan berpikir bebas untuk
berusaha melakukan sesuatu yang berbeda dan lain dari biasanya. Gurunya yang
justru menyumbat kreatifitasnya sehingga sangat dikhawatirkan anak ini tidak
dapat mengoptimalkan fungsi otaknya yang luarbiasa, karena apa? Karena kurang
mendapatkan dukungan lingkungannya dalam melakukan stimulasi fisik dan
mentalnya. Ia tidak diberi kesempatan untuk melihat bunga dengan cara lain,
meskipun dia tahu bawa di sekitarnya bunga tak selalu berwarna merah. Padahal
kegiatan mewarnai adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan dan
realitanya ada banyak warna pada bunga, namun anak inii hanya mengambil warna
merah dan hijau untuk mewarnai semua bunga meskipun dlam kotak crayon terdapat
beraneka warna.
Kita tentu masih ingat bahwa tujuan terpenting
dari sebuah Pendidikan adalah belajar bagaimana belajar. Karena pada dasarnya
Pendidikan bukanlah sebuah kejadian sekali saja bagi setipa orang, melainkan
sebuah proses yang berkesinambungan sepanjang hayat. Seringkali tanpa disadari anak-anak telah dicetak
dengan cara pendang baik di rumah atau di sekolahnya.mereka seolah-olah hanya
diberikan satu jalan keluar dan didoktrin ahwa itulah satu-satunya jalan yang
benar. Padahal begitu banyak pilihan
jalan yang dapat diambil. Jadi seolah-olah pendapat lain adalah salah karena
sang guru mengganggap ccara yang lain memang salah. Namun hal ini menjadi hal
yang paling menyedihkan manakala cara pandang ini menjadi terpatri kuat dalam
diri sang anak. Meskipun sang anak telah mendapatkan tempat keleluasaan dan kebebasan
untuk berekspresipun si anak tetap tak mau dana tak mampu mengambil pilihan
lain secara kreatif dan ia cenderung memilih menggunakan cara berpikir yang
sama meski situasi telah berubah.
Perlu kita semua ketahui bahwa memberikan
keleluasaan bagi anak untuk senantiasa memilih sedini mungkin akan membuatnya
terampil dalam mengambil pilihan terbaik dan siap dengan konsekuensi dari
setiap pilihannya. Bukankah hidup ini juga merupakan serangkaian untuk memilih
dan mengambil keputusan? Maka berikanlah keleluasaan pada anak-anak kita untuk
memilih dan mengambil keputusannya sendiri dan berikan kepercayaan padanya
untuk bertanggungjawab atas pilihan yang diambilnya. Dengan kepercayaan inilah
kita akan menyalakan api pikiran dan kreatifitas anak-anak kita, bukan
menjejalinya dengan cara pandang orang terdahulu.
Kepercayaan anak pada kedua orangtuanya adalah
modal untuk menumbuhkan mental yang sehat. Dengan kepercayaan ini orangtua
memiliki pintu masuk untuk mengakses hati dan pikiran anak. Sehingga akan mudah
bagi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai agama,moral, kedisiplinan dan
perilaku. Anak akan percaya kepada orangtuanya, bahwa orangtuanya akan
memahaminya dan dapat enjadi teman baginyaa, sehingga anak akan berlaku jujur
kepada orangtuanya kerena orangtuanya dapat memberikan maafnya jika dia
bersalah.
Semoga kita dapat menjadi orangtua yang
terpercaya.