Di
pengalaman-pengalaman berikutnya pun terjadi hal yang sama, maka saatnya aku
memberikan pengertian kepadanya bahwa untuk berinfak tidak harus dengan jenis
uang sama. Karena dia belum mengerti nominal uang, maka belum aku sampaikan
tentang besaran uang. Yang kusampaikan kepadanya adalah berapapun dan apapun
jenis uangnya,warna dan gambarnya boleh dimasukkan dalam kotak amal, jadi tidak
harus mencari gambar uang yang sama seperti dulu. Bahkan uang logam pun boleh
dimasukkan dalam kotak amal, tergantung yang kita punya. Dari sinilah Aqila
mulai tidak pilih-pilih terhadap uang untuk dimasukkan dalam kotak amal.
Berapapun yang diberikan oleh ibu atau yang ada dalam kantong bajunya, ia
terbiasa memasukkan uang ke dalam kotak amal apabila dia menjumpainya. Karena
memang focus pembiasaan dan penanaman ini adalah peka dan terbiasa berbagi.
Bukan focus pada nominal yang diberikan.
Pada kesempatan
berikutnya akau melihat sebuah peningkatan pada diri Aqiila tentang sebuah
nilai kepekaan terhadap kotak amal. Suatu hari kami mengunjungi sebuah Swalayan
untuk belanja. Usai kami belanja dan membayar di kasir kami hendak pulang dan
menuju pintu keluar, rupanya di samping pintu keluar itu terdapat deretan kotak
amal yang terbuat dari kaca dan jumlahya lebih dari satu, nampaknya kotak-kotak
amal itu berasal dari berbagai tempat.
Hal itu dapat dipastikan dari stiker yang terpasang di masing-masing
kotak amal dan gambar yang menyertainya. Aqila menanyakan gambar-gambar itu
kepadaku, maka dengan sabar hati aku menjelaskan satu per satu gambar yang ada
di setiap kotak amal. Ada yang dari pembangunan masjid, pembangunan pesantren
dan pondok, ada yang untuk anak-anak yatim piatu di sebuah panti asuhan dan
untuk anak-anak yang menderita sakit tertentu. Bahkan gambar-gambar itu telah
mewakili peruntukan dana dalam kotak amal tersebut. Aku hampir tidak tahu apa
yang ada dalam pikiran putri kecil ku. Dia meminta dua lembar uang untuk dua
kotak amal. Kupikir tadinya dia hanya akan memasukkan begitu saja uang-uang itu
secara acak, tapi ternyata tidak. Dia manaruh perhatian pada gambar anak-anak
yang sedang sakit dan anak-anak di panti asuhan. Dan pilihannya jatuh pada
kotak amal dengan kedua gambar tersebut.

Karena
penasaran aku bertanya kepadanya mengapa ia memilih kedua kotak amal itu
diantara kotak amal yang lain,
“kak, semua
kotak amal kan sama saja kenapa kakak pilih-pilih gitu?”
“ ibu… semua
kotak itu beda bu…” jawabnya.
“ bedanya apa?”
“ kan kalau
kotak yang ini sama yang itu ada gambarnya teman-teman aku bu..” sambil ia
menunjuk pada dua kotak amal yang bergambar anak-anak kecil.
“ oh…jadi kakak
mau masukkan uangnya ke kotak yang ada gambar temen kakak?”
“ iyalah
bu…mereka itu lagi kasian dan sedih”
“kok kakak tahu
kalau mereka lagi sedih?”
“ ya kan dia
lagi sakit, trus temenku yang banyak itu mereka nggak punya ayah sama ibu
makanya tinggalnya rame-rame.”
“loh…darimana
kakak tahu kalau mereka nggak punya ayah dan ibu kemudian mereka tinggal
rame-rame?”
“ ya kan ibu
dulu bilang waktu kita baca majalahku kalau ada panti asuhan itu berarti
temenku yang nggak punya ayah sama ibu, tadi ibu bilang kalau temenku yang
banyak di gambar itu ada di panti asuhan. Ibu gimana to kok lupa?” jawabnya
Panjang dengan nada sedikit penekanan berusaha mengingatkan ibunya.
Oh..masyaallah…Aqilaku… engkau benar-benar istimewa. Terkadang kita yang
orang dewasa saja tidak sampai pada pemikiran yang demikian. Namun anakku ,
telah mengajarkan padaku tentang sebuah empaty yang mendalam. Terkadang anak
sangat perlu dipertemukan langsung dengan situasi nyata yangga da di
hadapannya. Sebuah kehidupan yang sengsara dan keadaan yang menyedihkan
disbanding dengan kehidupannya. Meski aku belum sampai pada tahap ini dalam membangun
rasa empati Aqila, namun upayaku melalui cerita bergambar telah mampu
menggugah hatinya untuk peduli dengan kehidupan oranglain. ada beberapa hal
yang perlu orangtua perhatikan dan lakukan dalam menumbuhkan rasa peduli kepada
oranglain diantaranya adalah :
- Melakukan dialog tentang berbagai macam
perasaan yang dirasakan oranglain.
Lakukan hal ini sesering mungkin dengan kalimat dan Bahasa yang tepat.
Upayakan setiap moment kebersamaan dengan anak ada hal-hal yang menjadi bahan
untuk diperbincangkan dengan anak mengenai perasaan oranglain. misalnya saja
saat sedang berjalan-jalan kemudian melihat orang yang sangat sepuh kesulitan
membawa barang yang banyak dan berat, maka dengan melihat kejadian ini kita
dapat mengatakan kepada anak, “ Ya Allah..kasihan sekali embah itu ya nak,
tubuhnya sudah lemah namun harus membawa barang segitu banyaknya. Embah itu
pasti sangat Lelah ya nak..”
Atau kita dapat memberikan contoh kepada anak tentang perasaan anak lain
yang seumuran dengannya,” nak…sepertinya Bella tadi marah karena makanannya
tumpah di lantai ya..kasian dia nggak jadi makan.” Atau ketika mendengar berita
duka yang ada disekitar kita, “ Duh, sedih banget ya mbk Devi masih TK udah
kehilangan ayahnya karena meninggal dunia.”
Tentunya masih banyak sekali moment kebersamaan kita dengan anak yang
dapat kita manfaatkan untuk mellakukan dialog penggugah empaty anak-anak kita.
- Mengajak anak membayangkan dirinya menjadi
anak lain.
Lakaukan hal ini pada saat yang tepat, rangkaialah sebuah kalimat yang
yang dapat menggugah hatinya untuk dapat merasakan perasaan anak lain. hal ini
biasanya sering aku lakukan pada saat Aqila tak mau berbagi mainan dengan anak
temanku yang sedang siaturahmi ke rumah. Biasanya ku katakan padanya,
” kak, kasihan anak teman ibu
tadi dia sangat ingin bermain dengan bonekamu. Tapi nggak booleh sama kakak,
coba kalau kakak sama ibu yang sedang main ke rumah orang terus kakak nggak
bawa boneka kesayangan kakak, padahal di rumah teman ibu itu anaknya punya
banyak boneka yang bagus-bagus dan kakak kepengen pinjam dan main dengan
bonekanya tapi anak itu nggak mau pinjami bonekanya. Pastinya kakak kecewa
banget kan?”
- Melatih anak terbiasa memberikan miliknya.
Hal ini merupakan latihan bagi anak untuk rela mengorbankan sesuatu yang
menjadi miliknya. Misalnya saja, saat anak membuka tabungan miliknya, mendapat
uang saku dari kakek neneknya atau saudara yang lain jangan lupa untuk
mengiingatkan dia untuk mensyukuri rezekinya dengan menyisihkan sedikit
miliknya untuk diberikan kepada temanya yang sedang kesusahan atau untuk
dimasukan dalam kotak infak. Jadi mereka merasa telah melakukan kebaikan dengan
uang mereka sendiri.
Latihan ini juga tak harus selalu dengan uang, tapi juga bisa dengan
bentuk lain seperti makanan atau mainan yang dimilikinya. Biasakan anak-anak
kita untuk siap berbagi makanan yang dimilikinya dengan teman yang lain.
- Menunujukkan akibat dari kebaikan yang
dilakukan.
Nah, ketika latihan-latihan penggugah empaty ini telah dilakukan
tunjukkan kepada mereka hasilnya. Yaitu akibat dari perbuatan baik yang mereka
lakukan adalah salah satu cara membahagiakan oranglain. dengan kita banyak
memberi kepada oranglain, maka pemberian kita mengakibatkan oranglain merasa
bahagia. Bisa dengan sebuah ucapan,” wah, senangnya temanmu ya nak waktu kamu
kasih kue nya tadi. Sepertinya dia belum pernah merasakan kue seperti kue
milikmu.”
Berikan kesempatan kepada anak untuk meraskan bangga karena telah
melakukan kebaikan yang ternyata dapat membuat oranglain bahagia. Dengan cara
ini maka akkan tumbuh motivasi dalam diri anak untuk membiasakan diri berbagi
dan membahagiakan oranglain dengan cara dan dalam bentuk apapun.
Marilah kita sebagai orangtua mulai menuntun dan mengajarkan kepada
anak-anak kita untuk dapat berempati kepada oranglain, supaya ia tidak tumbuh
menjadi anak yang kikir dan egois di masa dewasanya. Tuntun mereka untuk
membantu sesama dan tunjukkan kepada mereka betapa hal itu dapat membahagiakan
dan membantu meringankan kesusahan oranglain.