Baca Juga ya
Bagi ayah yang jadwal kerjanya padat, akan
lebih baik jika menyisihkan waktunya antara 10 hingga 15 menit dalam sehari
untuk menjalin komunikasi dengan anaknya, tinggalkan sejenak saja smartphone
ayah untuk totalitas membersamai anak beberapa menit namun efektif dan
produktif. Hal semacam ini jika telah menjadi kebiasaan dan agenda tetap ayah,
kenangan indah Bersama ayah akan membekas sangat dalam di dalam memori anak. Ia
bahkan akan mengingatnya dengan rasa bahagia dan menanti-nanti waktu sepuluh
menit Bersama ayah itu tiba. Anak akan mengingat waktunya dan merekam sejumlah
aktivitas yang menjadi kenangan indah bagi anak karena memiliki kebersamaan
dengan ayah.
Lalu kegiatan apa yang dapat dilakukan ayah
yang hanya beberapa menit saja? Banyak pilihannya ya, ayah dapat mengajak
anaknya berjalan-jalan di pagi hari sebelum berangkat beraktivitas sambil
bercanda,bermain dan becerita. Jadi pagi harinya akan sangat berkesan dan dapat
memengaruhi kondisi jiwa anak sepanjang harinya. Bisa juga selepas shalat
magrib, ayah dapat gunakan waktu ini sampai sholat isya untuk bermain dan
bercerita Bersama anak, membangun komunikasi efektif dengan menanyakan perasaan
anak di hari itu, ada kejadian apa seharian, adakah yang membuatnya marah,
kesal atau sedih. Atau hanya sekedar menanyakan aktivitas anak dalam sehari
itu. Wah…ini adalah waktu yang sangat menarik bagi anak untuk mengekplorasi
perasaannya dan pikirannya tentang apa saja yang ia rasakan dan lakukan dalam
sehari. Ayah juga dapat memanfaatkan sepuluh menit menjelang tidur malam dengan
membacakan cerita untuk anak, hal ini juga dapat membuat anak sangat senang dan
menanti-nanti waktu menjelang tidur malamnya, karena pasti ayah akan hadir di
dekatnya untuk membacakan cerita. Atau jika ayah yang hanya memiliki waktu
akhir pekan, ayah dapat melakukan aktivitas Bersama anak dengan family project.
Kehadiran ayah meskipun hanya beberpa menit
saja akan berpengaruh sangat mendalam dalam perkembangan psikologi anak.
Bagaimanapun ayah tetap harus peduli dengan perkembangan anaknya dan turut
serta memeperhatikan kebutuhan fitrah belajarnya. Meskipun tak dapat
mendampingi secara full time, yang penting ayah totalitas dengan beberapa menit
yang dimilikinya bersama anak. Dengan totalitasnya ayah ketika membersamai
anak, akan menjadikan ayah juga mengerti dan peka akan perkembangan dan
kebutuhan belajarnya, sepuluh menit cukup untuk ayah dapat menjajaki dan
mengamati perkembangan anak.
Baca Juga ya
Seperti halnya ayah Aqila membersamai anak
meski hanya dalam waktu singkat dan terbatas tetap harus dilakukan ayah sebagai
jadwal wajib yang harus ayah Aqila lakukan. Sang ayah memiliki waktu pagi hari,
biasanya ayah mengajak Aqila untuk marathon atau hanya sekedar jalan-jalan pagi
sambil bercerita banyak hal, bercanda dan tertawa lepas, bermain kejar-kejaran
dan Aqila yang bergelayutan manja di gendongan ayahnya. Ah…melihatnya saja bisa
ikut senang. Sering sekali Aqila menantikan waktu pagi ini supaya bisa
jalan-jalan bersama ayah. Waktu kedua adalah setelah sholat magrib, Aqila
hampir setiap hari selalu ikut ayah sholat maghrib di masjid. Pulang dari
masjid ayah pasti memurojaah hafalan Aqila atau mentalqin hafalan baru
untuknya. Setelah itu, mereka berdua akan bermain bersama dan bercanda. Namun
kali ini sengaja ibu meminta ayah untuk membacakan cerita untuk Aqila, karena
ibu ingin melihat reaksi Aqila ketika dibacakan cerita oleh ayah, apakah ia
dapat menangkap apa yang disampaikan ayah dalam ceritanya, apakah Aqila dapat
menyimak dan memperhatikan dengan baik, dan banyak lagi yang ingin ibu amati
dari proses stimulus auditory sebagai salah satu gaya belajar. Karena metode
talqin sangat cocok untuk Aqila dapat menghafal surat-surat pendek dalam
Al-quran, maka ibu ingin mengatahui
sejauh mana Aqila memaksimalkan indra pendengarannya untuk sebuah informasi dan
pengetahuan.
Kuberikan kesempatan Aqila untuk memilih
buku ceritanya dan cerita mana yang ia inginkan. Ada tiga kisah cerita yang ia
pilih yaitu tentang hewan qurban, suasana hari raya idul fitri dan kedisiplinan
merapikan barang-barang yang selesai digunakan. Namun tidak banyak yang saya
peroleh dari aktifitas ini. Ah…entah apa yang sebenarnya terjadi, apakah Aqila sedang Lelah atau memang gaya
ayah bercerita kurang dramatis. Tidak seperti biasanya, Aqila cenderung pasif
dan hanya sekedarnya saja menyimak cerita yang dibacakan ayah. Tidak ada respon
berlebihan dari Aqila yang biasanya ia akan menghentikan cerita dan antusias
bercerita sendiri tentang pengalamannya yang senada dengan cerita yang sedang
dibacakan. Aqila hanya memilih untuk tersenyum dan melihat gambar-gambar yang
ada didalam buku cerita.
Meskipun begitu, tak jadi masalah bagiku
untuk tetep melakukan penjajakan gaya belajarnya. kondisi seperti ini tentu ada
alasannya yang saya sendiri belum mengetahuinya. Setelah cerita dibacakan siang
itu, mereka berdua tidur berpelukan dengan nyenyaknya. Ah..barangkali memang Aqila
sudah mengantuk dan Lelah. Malam harinya kutanyakan kepadanya perihal cerita
yang dibacakan ayah siang tadi, saya menggali informasi sebanyak-banyaknya.
“ kak, tadi siang dibacain cerita sama ayah
seneng nggak?”
“ seneng bu, kan ayah nggak pernah libur.
Yang bacain ceritanya ibu terus”
“ oh..diceritain apa tadi”
“ iya cerita hewan qurban, trus takbiran
kayak dirumah mbahku Jepara, trus dikasih sangu kalau lebaran”
“ wah…banyak ya ceritanya kayaknya seru
nih…sayang ibu tadi nggak ikutan sii”
“ ah..tapi aya ceritainnya nggak kayak ibu”
“lho…ya nggak apa-apa, gaya ayah sama ibu
kan beda kak”
“ ya tapi aku jadi ngantuk, nggak kayak ibu
kalau certain aku, sambil main sama aku”
“oh…jadi kamu malah ngantuk? Ya bagus
dong…biasanya kakak malas bobok siang,jadi mau bobok siang kan..”
“hmmmm…ya tapi ayah …”
“ yaudahlah nggak apa-apa, tapi kamu seneng
kan diceritan sama ayah, bisa peluk ayah, bisa ketawa sama ayah. Kan
jarang-jarang tu ayah di rumah. Jadi pas ayah di rumah bisa bareng-bareng deh
sama Aqila”
“iya bu, aku seneng banget kalau ayah sama
ibu libur, aku jadi punya banyak temen main.”
“ nah…gitu dong…oya kak ayah tadi cerita
apa lagi selain hewan qurban sama hari raya idul fitri?”
“ iya tadi ada cerita kalau habis ambil
buku harus dikembalikan di rak buku lagi, ambil mainan dikembalikan di tempat
mainan lagi, abis makan piringnya juga ditarok di tempat cucian piring.
Ya..gitulah.”
“ wah..kakak masih inget. Memang kakak
kayak gitu nggak? Kalau abis ambil buku dikemblikan di rak lagi nggak?”
“ iya lah bu…aku aja abis main mau kok
beresin mainannya, abis minum susu juga gelasnya aku tarok di cucian piring .”
“ wah…hebatnya anak ibu..pinter deh.”
Dialog Bersama Aqila ini sudah cukup untuk
menjawab rasa penasaranku tadi siang. Barangkali saking nyamannya sama ayah dia
jadi mudah mengantuk. Tapi dalam keadaan ngantuk seperti itupun dia masih mampu
menyimpan dan mencerna informasi yang keluar dari cerita yang dibacakan
ayahnya. Kemampuan auditory nya masih dapat bekerja meskipun tak ada reaksi pada
saat dia mndengarkan cerita. Namun sebenarnya, strategi dalam mengembangkan
kemampuan auditory kita perlu melakukan penekanan-penekanan suara. Pada cerita
yang dibacakan ayah karena kurang dramatis, yang mampu diingat oleh Aqila
adalah tentang ceritanya, bukan makna ceritanya. Karena pada saat kita mengunakan metode suara
untuk menyampaikan inforamasi apapun, kita perlu melakukan trik. Seperti halnya
untuk sesuatu yang penting atau rahasia, kita sering menggunakan metode
berbisik di telinga atau penekananan suara pada beberapa kisah yang seru atau
menegangkan. Menggunakan tekanan auditori ini akan membantu melekatkan
informasi pada pikiran anak. Bila perlu guanakan suara yang lantang dan
memvisualisasikannya dengan tanpa menggunakan buku tapi dengan ekspresi. Hal
ini akan membantu anak untuk menyerap informasi yang secara otomatis anak telah
belajar dan menyimpannya dengan cara multi-sensori, sederhana tapi efektif.
Kegiatan bercerita ini sangat baik untuk
mengasah kemampuan auditory pada anak. Pada dasarnya setiap anak memang
memiliki semua gaya belajar, artinya anak berpotensi memiliki kemampuan
memahami informasi baik dengan gaya visual, auditory atau kinestetik. Meskipun
anak memiliki kecenderungan dan menonjol pada salah satunya, tidak menutup
kemungkinan anak juga akan mendapatkan informasi dengan gaya yang berbeda dari
gaya belajar yang dominan dari dirinya. Nah, tentu tidak ada salahnya kita juga
mencoba mengemabangkan gaya belajar yang lain supaya lebih variative. Yang
penting tidak memaksakan dan menjejali anak yang kemudian akan menjadikan anak
justru hilang minat belajarnya.
Dari pengalaman Aqila bercerita Bersama
ayah ini, saya menemukan bahwa Aqila mampu mengingat dengan baik dan mengahafal
kosa kata dan gagasan-gagasan yang disampaikan oleh ayahnya. Ia juga mengingat
nama tokoh yang ada dalam cerita tersebut serta mampu mengungkapkan emosi
secara verbal melalui dialog dengan ibu yang disertai dengan perubahan nada
bicara. semua ini merupakan ciri kemampuan auditory, artinya Aqila memiliki kemampuan
auditory yang baik, meskipun auditory bukanlah hal yang paling menonjol dari
gaya belajarnya.
Baca Juga ya