MENJAJAKI GAYA BELAJAR ANAK
DENGAN BERAGAM KEGIATAN
“ MELOMPAT DAN MENITI”
Usia dini atau
sering disebut dengan usia pra sekolah dimana anak masih berada pada masa
ketika anak belum memasuki Pendidikan formal. Rentan waktu ini sangat baik
sekali untuk para orangtua dapat mengembangkan potensi dan kecerdasan anak.
Melakukan pendampingan dan memberikan arahan untuk pengembangan potensinya akan
sangat berpengaruh pada kehidupannya dimasa yang akan datang. Peluang terbesar
dan terbaik untuk anak dapat menyerap informasi dan pengetahuan adalah pada
anak masih berada pada usia dini dibandingkan dengan ketika anak-anak telah
beranjak dewasa. Hal ini disebabkan salah satunya adalah karena otak anak usia
dini belum terkontaminasi oleh berbagai macam pengetahuan dan perkembangan otak
pada masa usia dini sedang berada pada perkembangan yang pesat.
Baca Juga ya
Percayakah
anda, bahwa kecerdasan anak berawal dari permainan. Bagi anak-anak, bermain
adalah sarana untuk mengubah kekuatan potensi dalam diri menjadi sarana
penyalur kelebihan energi dan relaksasi. Dengan bermain mereka akan banyak
belajar tentang hukum alam dan berhubungan dengan lingkungan. Dan yang lebih
penting lagi adalah, bermain merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan
potensi anak dalam berkreasi sesuai kemauannya tanpa paksaan dan hambatan untuk
melatih fisik dan mental supaya anak dapat lebih mengenal dirinya dan
lingkungannya.
Melalui bermain
kita dapat melihat dan mengamati setiap perkembangan yang terjadi pada diri
anak, selain itu kita juga dapat mengembangkan potensi kecerdasan anak dengan
beragam metode untuk semua aspek kecerdasannya baik di ranah kognitif, afektif
dan psikomotornya, Mengamati kecenderungan kecerdasan dan gaya belajarnya. dan
tentunya di usia dini juga, kita perlu mengasah semua kemampuan anak di setiap
ranah kecerdasan yang secara natural ada dalam diri anak secara keseluruhan.
Biarkan jika beberapa atau salah satu kecerdasan dan gaya belajarnya muncul
lebih optimal dan lebih dominan sebagai kecenderungannya. Karena jika
kecerdasan dan gaya belajarnya telah Nampak yang paling dominan, tahap
berikutnya adalah tinggal memberikan pendampingan secara terarah, pemberian
fasilitas belajar secara tepat dan sesuai kebutuhan belajarnya serta ketepatan
dalam proses pengembangannya.
Masih dalam
rangka menjajaki gaya belajar Aqila, selain ingin mengasah semua kemampuan potensi
kecerdasannya, saya juga perlu mengetahui gaya belajarnya yang paling dominan
mealalui beragam kegiatan yang saya lakukan bersamanya. Kali ini adalah melaui
permaian fisik yang akan melatih tingkat kefokusan dan keseimbangan tubuhnya.
Setiap kegiatan bermain akan menuntut keaktifan secara fisik dan mental dengan
cara yang menyenangkan. Maka dengan aktivitas bermain ini , anak pasti akan
sangat merasa senang dan bahagia karena menikmati permainan. Dan yang paling
penting bagi kita sebagai orangtua, kita tidak boleh memaksakan kegiatan
bermain kepada anak dengan permainan-permainan yang memang tidak disukai oleh
anak. Jika kita memiliki misi, maka sebaiknya tawarkan kepada anak jenis
permainannya, apakah dia suka atau tidak. Kalau anak tidak suka ya jangan
dipaksakan. Rubah permainan atau modifikasi bentuk permainannya.
Setiap
permainan yang saya lakukan Bersama Aqila selalu melibatkan gerak tubuh dan
olah fisik karena semua aktivitas bermain akan menuntut anak menggerakkan
tubuhnya. Seperti halnya dengan permainan yang kami lakukan ini, yaitu melompat
dan meniti pada sebuah kayu balok untuk menyeberangi suatu parit. Melompat saat
bermain engklek ternyata sangat menyenangkan bagi Aqila, namun butuh beberapa
waktu untuk mengenalkan permainan ini kepadanya. Termasuk cara bermain dan
mencontohkannya agar ia mengerti dan dapat melakukannya sendiri. Saya masih
sangat mengingat sebuah kejadian saat Aqila berusaha untuk dapat melakukan
gerakan senam secara teratur, tak dapat ia pahami jika hanya melihat saja dari video
di layar laptop. Namun harus dengan arahan dan mencontohkannya langsung melalui
kontak fisik.



Dari pengalaman
itu, saya pun menggunakan metode yang sama. Tidak cukup dengan memperlihatkan
gerakan di hadapannya, namun dengan menjelaskan melaui kalimat verbal dan harus
membersamianya saat melakukan gerakan-gerakan melompat pada permainan engklek.
Kegiatan semacam ini dapat melatih kekuatan otot dan keseimbangan. Kegiatan
meniti atau berjalan dia atas papan dapat dilakukan pada anak yang sudah
berusia 3-4 tahun. Pernah saya mencobanya saat Aqila masih berusia 2 tahunan,
ternyata dia belum memiliki kepercayaan diri yang baik, bukannya berjalan
meniti tapi justru merangkak.
Namun, untuk melatih kepercayaan dirinya pada
saat itu, saya memegang erat tangannya sebagai kode yang seolah ingin kukatakan
bahwa ibu ada disampingmu dan menjagamu, maka percayalah pada ibu.
Perlahan-lahan dengan berpegangan pada tanganku Aqila berjalan di atas papan.
Ketika sukses berkali-kali, iapun melompat kegirangan. Nah, barangkali ia
mengingat moment ini saat saya memintanya lagi meniti diatas balok kayu yang
melintang diatas parit Dan dia tertawa
sendiri kemudian menunjukkan kelincahan dan kemahirannya di hadapanku tanpa
arahan dan penjelasan apapun dariku. Nah, ini juga merupakan sebuah tanda bahwa
ia juga telah memiliki kemampuan mengkonstruk sebuah informasi, pengetahuan dan
pengalamannya untuk dapat melakukannya dengan lebih baik.
#harike17
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP